jam

Tik… tok… tik… tok…

Jam dinding di kamarku berdenting nyaring. Sudah pukul lima sore ternyata. Mataku hanya melahap bayangan- bayangan cahaya matahari sore yang menembus jendela transparan kamarku. Tubuhku terbaring malas. Sesekali menarik nafas dalam, dan menghembuskannya lepas. Hidupku stagnan. Tak ada perubahan. Tanpa ku sadar handphone yang ku rawat dari kelas satu SMA itu bergetar. Panggilan dari Papay ku abaikan. Malas. Hingga beberapa kali panggilan itu tak ku angkat. Baru untuk missed call yang kali kedelapan baru ku angkat.

 

Baca lebih lanjut

i-s-e-n-g-?

Iseng? Apa sih? Ya pasti iseng. Hehe. Sebenarnya cerita ini dibuat untuk sebuah kejadian mengejutkan sangat dengan alasan sebuah kata “iseng”. Loh kenapa bisa? Jadi begini ceritanya…

Siang itu, tepatnya rabu (7/03), aku baru saja mau menemui guru Bimbingan Konselingku karena ada urusan pembayaran SNMPTN. Kebetulan satu tempat yang aku kunjungi pertama adalah Ruang BP karena biasanya beliau ada disana. Ketika mulai mengetuk pintu dan membuka sambil memberi salam, ku lihat dari ruang utama di ruang BP ada guru geografiku- sebagai walikelas (yang ini guru geografi perempuan)- dengan dua muridnya. Akhwat dan ikhwan. Waduh, sepertinya sedang ada masalah nih. Takut ada kesalah pahaman, setelah mengetahui tak ada guru BK yang aku cari, aku langsung pamit dan menutup pintu. Awalnya aku berpikir tentang dua murid itu, “oh mungkin masalah pribadi”. Jadi ku biarkan dan tak ku pikirkan.

Baca lebih lanjut

mitos !

pernah dengar mitos terbaru di Jakarta Timur masalah nenek- nenek bawa gayung? yang saya dengar dari abang saya masalah mitos itu, katanya sih ada nenek- nenek yang bawa gayung serta tikar pandan. katanya juga kalau ada yang melihat dan mengajaknya ngobrol, besok atau lusa bakalan mati. masa sih?

mungkin aku salah satu orang yang tak percaya akan hal itu. mana percaya sih, namanya juga mitos. lalu masalah yang meninggal itu, mungkin mereka memang sudah ajalnya. lagi pula dalam pendidikan rohaniah dalam keluargaku, aku dilarang keras percaya sama yang begituan. sekali denger juga aku nggak percaya kok.

kalau pun masih sering merinding kalau mendengar sesuatu yang berhubungan dunia ghaib, aku tak mudah percaya begituan. kalau aku yang mengalami mungkin aku bisa percaya. tapi, no way!

aku sempat penasaran dengan issue itu sampai aku mencari berita lengkapnya di internet. hmm.. yaaa… tak jauh berbeda dengan informasi yang aku dapat dari teman- teman BBM-ku. kurang seru. apalagi syifa pernah cerita, ada pula kakek- kakek bawa pacul. haduuhhh… hantu- hantu di Indonesia tuh bener- bener sederhana dan sangat tradisional. subhanallah. kalau cerita yang kakek- kakek itu jadi setelah si mayat yang meninggal sama si nenek- nenek bakal dikuburkan dengan pacul si kakek. ckckc… sangat setia sehidup dan mati.

sampai di suatu hari, issue itu semakin kuat. banyak korban berjatuhan setelah bertemu si nenek- nenek. ya Allah. kalau ternyata nenek temanku yang bawa gayung gimana? bikin meninggal juga? payah banget sih. sesuai perkembangan si nenek, sudah sampai di daerah Cakung. dasar, demen banget sih jalan- jalan ngebunuh orang.

hari itu kebetulan hari jum’at. aku pulang les dari Bogor dan mau menginap di Jakarta. karena besoknya libur. alhamdulillah. aku naik kereta dengan tiga temanku yang turun di bojonggede. menuju jakarta, aku pun sendirian. sesampainya di stasiun tebet, sudah hampir setengah sepuluh. berjalan di sekitar kampung melayu malam- malam gini, ya memang membuat bulu kuduk berdiri. tapi aku coba beranikan diri untuk tetap berjalan menuju metromini yang ke arah terminal kampung melayu. sesampainya di terminal kampung melayu, jemputan juga belum datang. jadi aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan umum juga.

turun di depan gang besar. sedikit lagi berjalan aku sudah sampai di rumah yang aku tuju. jalanan sudah sepi. hanya sesekali bunyi kentungan tukang sekuteng mewarnai suasana menyeramkan ini. takut kejauhan, aku mengambil jalan pintas. lewat gang kecil yang kurasa agak menyeramkan. menetralisir ketakutan, aku menyetel lagu kesukaan dengan headset. di belokan pertama, disinilah semuanya terjadi. NENEK- NENEK PEMBAWA GAYUNG DAN TIKAR PANDAN! jantungku berhenti mendadak. shocked! apakah bertemu nenek ini nyawaku akan melayang? dengan kaki gemetar aku terus berjalan. aduuhh mana gangnya sempit. cukup hanya untuk dua orang. jempolku menekan tombol stop di handphone ku. meneguk ludah yang tak bisa ku telan. dengan sok berani aku menyapa, ” assalamu’alaikum, permisi nek. saya mau lewat,” ya Allah sudah keringat dingin begini.

diam. nenek itu perlahan menengokkan kepalanya kepadaku. ya Allah. nenek itu tersenyum saat aku melihat wajahnya. gigi- giginya yang sudah ompong sedikit mebuatku geli. dan, SET! nenek itu melotot. dengan sok berani kembali aku menyapa, ” nenek mau kemana? mau saya antar? nanti nenek masuk angin,” cuapku polos yang sudah ketakutan ini. nenek itu menggeleng. minggir. mempersilahkan aku jalan. alhamdulillah. aku tak mau lagi menengok ke arah belakang. tak.

di belokan kedua, suami si nenek, KAKEK PEMBAWA PACUL! ya Allahu Rabbi. takuuuutt… keringatku semakin bercucuran saja. padahal dingin banget suhunyaaa..! sambil menunduk aku berjalan pelan. dan hingga langkahku terhenti, “hati- hati neng, banyak penjahat kalau malam- malam begini,”

DEG!

“KYAAAAAAAAAAAAAA…..!!!!” aku lari. sekuatku. sekuat tenaga ku. takut. ya Allah, ya Allah, Astaghfirullah…

sekuat tenaga aku berlari. sambil menutup mata. pokoknya harus sampai!

dug! alhamduillah, akhirnya aku sampai di okasi tujuan. selesai itu, kakakku membukakan pintu dengan ekspressi terheran- heran yang melihatku ngos- ngosan.

aku ceritakan semua yang aku alami tadi. merinding. sambil sesekali menyeruput teh yang di buatkan kakakku. dia tertawa, eh! orang lagi panik begini diketawain. ya sudah, sehabis cerita ia menyuruhku untuk segera tidur. dan aku gak bisa tidur!!

ya Allah, apakah akuakan mati seperti gosip- gosip berdar itu? huaaa… belum siaappp.. T_T

mataku tak bisa menutup sampai fajar menjemput. sama sekali tak bisa. sudah, harapanku hanya satu, masihkah aku bisa hidup. kakakku juga mulai panik melihat kegelisahanku. tetapi tiba- tiba ibuku menelepon ketika kakakku sadah menceritakan semuanya kepada keluargaku. katanya, “sudah jangan di pikirkan, kalau memang sudah ajal pasti akan datang. intinya jangan mudah percaya sama yang kayak gitu. nanti nyesel”. sudah begitu saja. tapi tetap membuatku tak tenang. tetapi kakakku menyarankanku agar segera berwudhu. dan aku melaksanakannya.

singkat cerita setelah aku menunggu kematian itu, kematian itu tak kunjung menghampiri. alhamdulillah, hingga hari ini Allah masih memberiku nikmat hidup. aku pun mulai tak percaya lagi dengan cerita- cerita aneh tentang nenek dan kakek itu.

keberanianku pun muncul untuk menghapus mitos aneh itu. ku tuangkan semuanya di blog-ku ini. kusebar luaskan dengan media internasional ini. walaupun banyak yang kontra tentang pengalamanku ini, aku tetap ngotot bahwa itu hanya cerita non-fiktif belaka. dan perlahan mitos itu menghilang, hingga hari ini..

17:50 p.m

#schanchans

sepenggal cerita tentangnya… siti suryaningsih

ya, namanya Siti Suryaningsih. wajahnya gembul berisi. pipinya yang chubby itu membuat aku mudah mengenalinya. suaranya juga. satu-satunya perempuan yang berserak basah itu, entah mangapa bisa aku ingat selalu.

pertama kali aku mengenalnya saat kami berada di satu kelas di 11sosial3. awalnya kami malu- malu untuk berteman. tetapi saat waktu berjalan, aku bisa mengenal sosok cantik itu. hari kian hari pertemanan kami hampir ada perpecahan karena masalah dengan anak- anak kelas. aku merasa tak enak dengan yang lainnya termasuk dia itu. tetapi alhamdulillah kami berteman baik lagi.

tiba saatnya kenaikan kelas. perfect. aku berhasil mengalahkannya dalam pendidikan. yang dulunya ia pernah mengalahkanku. dulu di semester 1 dia berhasil menduduki peringkat 2 dan aku yang ke4. sedangkan di semester dua aku pun membalikkan keadaan dengan 2 ditanganku dan 3 ditangannya. cukup memuaskan.

rolling kelas pun berjalan. kami tak sekelas lagi. beberapa hari setelah upacara penerimaan siswa baru, aku tak menemukannya di kelas sebelah. yang aku dengar dari sahabat-sahabatnya bahwa ia terkena penyakit. huft. kesibukanku di OSIS cukup menunda niatku untuk menjenguknya. akhirnya, beberapa minggu kemudian dia masuk dan sempat bersapaan juga bercakap tentang kuliah nanti. 3 hari kemudian ia kembali tak masuk, sakit lagi. ya Allah. berminggu- minggu ia kembali tak masuk. setelah mengakhiri masa jabatan OSIS, aku pun berniat untuk menjenguknya. tapi janji itu aku ingkari. sedikitnya waktu untuk kesana tidak bisa aku ambil karena padatnya jadwal peajaran juga pelajaran tambahan. sayangnya sekolah tak memberi respek besar terhadap ia.

hari ahad pun yang dipilih teman-temanku untuk menjenguknya. tetapi sayang, tak ada yang mengabariku. senin, orang- orang yang menjenguk ia pun memberikan informasi tentangnya kepadaku. mereka bilang bahwa dari dokter tak ada keputusan ia menidap penyakit serius. aku pun berfikir. lalu apa yang membuatnya seperti itu? segera ku hubungi pamanku yang bisa melihat hal-hal aneh yang manusia lain tak bisa rasakan. pamanku itu pun berusaha melacaknya dari jauh, tetapi ia tak bisa lakukan sendiri. berminggu pun aku mencari informasi lagi. satu hal yang kudapat tentangnya, PARU-PARU sebelahnya tak berfungsi! kembali ku hubungi pamanku. yang ia rasakan pun ternyata ada sedikit gangguan dari luar. lengkaplah sudah!

ketua kelasnya pun memberi sinyal untuk mengadakan sumbangan dadakan. alhamdulillah. kelas- kelas pun diminta untuk seikhlasnya menyumbang. lumayan beberapa ribu insya Allah cukup untuk mengurangi pengobatannya.

singkat cerita, ulangan semester satu pun menghadang. semuanya fokus dengan test kenaikan semester ini. suatu hal yang tak sempat aku bayangkan, ia mengikuti ulangan! dengan senang aku menghampiri ruang ujiannya untuk mengetahui keadaannya sekarang. DEG! kaget! siapa itu? tak sempat aku mengenali, ya, memang ia. BEDA! tubuhnya tak lagi gemuk. pipinya tak lagi chubby, senyumnya pun tertutup masker! KURUS SANGAT! lebih kurus dariku. masya Allah, seberat itu kah penyakit yang ia idap? INNALILLAH. aku tak berani menghampirinya. cukup untuk melihatnya dari jauh.

memang kesalahanku untuk tak menyapanya. kenaikan semester sudah menggelantung. kenyataan yang mengejutkan ku. ia menjadi peserta dengan nilai terendah dikelasnya. dari 37 orang???!!!

memang kesalahanku tak menyapanya hingga hari ini. ya, hari ini. hari terakhir aku ingat padanya. kenangan- di kelas dua dulu. ENTAH ? aku bingung.

bangun tidur dengan kepala pusing, 19 pesan tertera di handphone ku. dengan jengkel aku membukanya, ” Aslm, telah wafat teman kita SITI SURYANINGSIH, mohon maaf yang seikhlasnya semoga amal ibadahnya diterima Alloh, amin”

DEG! seteguk ludah ku telan. innalillah. lompat, dari tempat tidur aku langsung menyambar handuk untuk segera mandi. menggedor pintu kamarmandi yang terlelu lama dihuni abang ku.

selesai berpakaian aku langsung pamit dengan ibu. berlari mengejar kereta yang baru saja jalan! ah! 5 menit aku menunggu kereta yang sudah lapuk mesinnya itu. hah. akhirnya aku sampai di bogor, dan perjalanan menuju rumah almarhumah pun ku jalani. jauh. saaaangaaaat jauh! bagaimana  ia bisa bertahan kesekolah dengan jarak tempuh sejauh ini? ongkos yang ku gocek pun cukup menguras.

sampailah kami di tujuan, terlambat! jenazah sudah dikuburkan. ya Allah, sedih! tapi aku tak bisa menangis! temanku ada di dalam situ sendirian! sakit rasanya ! tapi, semuanya ini tak bisa aku ulang. ajal kapan saja bisa menjemput. bakhan ia pun tak bisa mennyangkal kalau ia bisa meninggal hari itu. hanya langit yang bisa aku tatap hari ini.

selamat jalan kawan. engkau ada di hati kami…

ahad, 16:06. bogor.

#schanchans

serial Najwa- bab2

Y

aps. Ini hari kedua aku mulai beraktifitas di kampus baru. Yaaa… sangat mengesankan. Agak asing sebenarnya di fikiranku. Tapi kalau ada 3ADI semuanya jadi tidak asing. Sangat tidak asing. Malah aku yang terbawa –menjadi- seperti senior kampus. Haha. Dasar 3ADI gila. Berfikir All izz well. Maksudnya all is well. Semua akan menjadi baik. Korban film sekali mereka. Barudak komunikasi! Tapi bukan aku yaa…

tugas mulai berdatangan. Hmm… beginilah masa depan. Tantangan yang lebih hebat. Aku harus belajar banyak dari semua ini. Dengan bermodal senyum, satu persatu kakak kelas aku dekati. Maksudnya untuk pinjam buku. Tak ada maksud lain. Lagi pula yang aku sumbang senyum itu akhwat. Ayo lah, jangan berfikir negative dulu.

Lorong menuju perpustakaan terbilang sepi. Maklum, sekarang Ahad. Hmm… aku celingak- celinguk sana- sini mencari orang yang ku kenal. Tak ada!

“ haduh, pada kemana orang- orang hebat ini?” aku bergumam sendiri. Ya sudahlah. Hari ini aku mau istirahat mencari pinjaman buku pemula. Dari pada kayak sapi ompong? Pulanglah diriku.

 

akhirnya sampailah aku di gang menuju stasiun. Ketika di belokan gang…

Tiiiiiinnnn…!!!

“ uwaaaa…”

Gedebugh! (sebenarnya gak gitu juga bunyinya). “ astaghfirullah… aduuhh..” aku meringis. Sangat sakit.

“ innalillah… afwan ukhty… saya nda sengaja…”

“ oke oke… aww…” aku tetap meringis ( demen banget sih). Sepenglihatanku, orang yang membunyikan klaksonnya tadi turun dari motor putihnya.

“  ukhty gak apa- apa?” ‘orang itu’ menghampiriku. “ oke oke… gak apa- apa kok”. “ mau di antar ke rumah sakit?”.

“ yaa ampun gak usah berlebihan juga kali. Paling juga terkilir. Udah, udah, kamu pulang aja sana,”

“ tapi kan saya nabrak ukhty. Ya sudah saya antar pulang,” tawarnya.

“ gak usah. Bisa sendiri kok,” aku mencoba berdiri. Ya Allah sakit sangat ini pinggangnya.

“ beneran nih saya antar,” cuap orang itu lagi. Hey!

“ masya Allah yah mas, udah saya bisa sendiri,” aku tetap ngomel sambil berlalu. Sebenernya aku ngobrol sama siapa yah tadi? Helm dibuka juga enggak. Gak sopan! Tapi baik, gimana dong? Aku terus berjalan menuju stasiun sambil megangin punggung. Kayak orang hamil gak sih?

Brrmmm… ada sekelibat suara motor yang sepertinya melaju dibelakangku. Hey mau nabrak lagi bukan?

“ ukhty, nanti kalau kenapa- napa gimana? Nanti dibilangnya saya tidak bertanggung jawab,” Ya Allah, orang yang tadi nabrak benar- benar mengejar tanggung  jawabnya.

“ oke. Sorry akhi, saya gak apa–“

“ – ehm.. ini kartu nama saya. Kalau ukhty kenapa- napa telefon saja,” ‘orang itu’ memberikan kartu namanya. Heloo.. siapa yang butuh? Dengan agak jengkel aku menerimanya.

“ saya boleh pulang?” tanyaku ketika dia selesai memberikan kartu namanya. Dia mengangguk. “ assalamu’alaikum…”

“ wa’alaikumusalam. Afwan ya ukhty!”

 

Mas Tha terpaku ketika melihatku sampai di rumah dengan keadaan memegang pinggang yang habis ketabrak tadi. Biasa aja kali liatnya! Ngajak ribut banget sih mas! Mengabaikan pandangannya, aku langsung ke dapur menghampiri ummi. Ternyata beliau sedang masak untuk makan malam. Iyey!

Dan Ummi pun kaget melihatku seperti ibu hamil. Tapi sepertinya beliau tidak berani bertanya. Tanpa basa- basi aku menceritakannya.

“ ketabrak motor,”

“ astaghfirullah. Kok bisa sih, Wa?”

“ pas di belokan gang mau ke stasiun, ternyata ada motor. Dan motornya juga gak tau kalo ada aku mau lewat. Payah!”

“ terus dia langsung kabur?”

“ enggak. Malah bawel banget,” ucapku kesal sambil mengingat kejadian tadi. “ maksudnya bawel?”

“ ya gitu. Aku bilang gak usah malah dipaksa biar aku mau ditolong,”

“ kok aneh banget?” Tanya mas Tha dari arah ruang tamu.

“ tau tuh. Katanya, ‘nanti saya dibilang tidak bertanggung jawab!’. Halah, apalah itu. Mana gak ada sopan- sopannya!” Ummi dan mas Tha mengangkat sebelah alisnya, “maksudnya?”

“ masa udah tau nabrak, buka kek, helmnya. Ini mah dipake terus. Kayak ketakutan ada durian runtuh. Najooong…”

“ hihi…” Ummi tertawa. “ kok malah diketawain sih Ummi? Itu kan gak soopaann…” ucapku geregetan.

“ ya sudah, ndak usah dibahas lagi. Nanti Ummi urut. Sekarang mandi dulu, habis itu kita makan. Dah sana,” aku mengangguk lesu sambil ngeloyor ke kamar dan terus memegangi punggungku.

 

Selesai makan Ummi benar mengurut punggungku. Sakit. Gara- gara kejadian tadi sore. Tapi, kok orang itu maksa banget yah mau nolong? Jarang banget menemukan orang seperti dia. ‘kan, paling kalo orang gak mau ditolong, ya sudah ditinggal pergi. Tapi unik loh orang yang tadi. Hmm… kepikiran. Hehe.

Habis di urut aku langsung chaos ke kamar. Tentu saja mengecek kartu nama tadi. Soalnya ‘ kan tadi aku sensi sangat. Pelan, aku membuka resleting tas- mencari kartu nama si penabrak-. Ya Alloh, gak etis banget. Hehe…

Mengucap basmalah aku mulai membaca kartu nama berwarna cokelat itu. Ini gak dosa atau mudharat kan? Gak ada maksud apa- apa kok. Hehe..

Hmm? Muhammad Faldi Al Fathi? Heeehh? Kok namanya sama siiihh?? Ada Fath nyaaa.. ? iiihh… fotocopy nih! Awas aja yah! Kalau ketemu lagi, Najwa El Fatha A’isyah akan beraksi! Hm! Gak ada fotonya sih! Kira- kira kayak apa yah orang nyebelin itu? Mudah- mudahan aja ganteng kaya almarhum Abiy. Hehe…

Selesai seseurian, aku langsung bergegas tidur. J

 

Krrrriiiiinnggg…

Hoaaammmhh… masih terasa pegal. Aduh, kejadian tabrakan kemarin terulang lagi. Rekamannya gak bisa di hapus yah? Bikin badmood aja deh!

Ngampus gak yah? Masih terasa ngantuk pula. Tapi demi masa depan! Ayo semangat Wa! Siap- siap berangkat ke kampus deh! Ayoooo!!

Heuu… kenapa gak bilang sih, mas kalau gak ke kampus?

“  kan udah bilang,”

“ kapan? Aku kan jadi berangkat sendiri,”

“ kemarin abis makan, yang kamu lagi di urut Ummi. Mas ‘kan ngomong,” sergah Mas Tha gak mau kalah.

“ iiiiihhhh… itu aku ‘kan ketiduraaaannn! Mas mah! Ah!” aku tetap mengotot.

“ ya sudahlah. Nanti Ummi bayarin taxi,”

“ hah, manja! Kamu kan udah biasa juga naik kereta!”

“ tapi pinggang aku masih sakiiitt… haaaa…” aku langsung memeluk Ummi. Ketakutan kalah argument sama Mas Tha sambil menangis. Pagi- pagi saja sudah dibikin badmood. Jadi ilfil kesananya tau maaasss…!

Benar saja, Mas Tha memang tipe yang keras kelapa, eh kepala. Sama layaknya aku. Mungkin bawaan dari Almarhum Abiy kali yah? Soalnya Ummi saaangaaatt baik. Never angry!

Tuh kan jadi naik kereta. Mana ketinggalan yang ekspress. Jadi naik ekonomi! Haaa… penuh. Gak ada yang berbaik hati mempersilakan aku duduk. Never mind lah. Cuma 4 stasiun. Tetep aja, lama! L

 

 

3ADI menganga mendengar ceritaku- masalah tabrakan. Dan mereka semakin menganga mendengar ceritaku masalah pertengkaran pagi ini dengan Mas Tha. Setelah itu mereka menepuk kening masing- masing.

“ memang namanya siapa Wa? Yang menabrakmu itu?” Tanya Dhea penasaran.

“ m… muu… Muhammad apa Ahmad Faldi, gitu. Dan yang makin buat aku kesel, nama belakangnya samaaa… arrgghh..! kayaknya sih anak sini… hmm…”

“ mungkin itu orang yang kamu cari,” cuap Indah.

“ memangnya siapa yang aku cari?”. “ oh iya yah…” ck! Dasar.

“ coba gue liat kartu namanya,” ujar Anggi meminta padaku. Tanpa ragu, aku langsung memberi card berwarna coklat itu. “ kamu mau apakan?” tanyaku mulai curiga pada kembarannya kang Sule ini( beda jauh sih sebenarnya) haha.

“ sebentar, gue pinjem dulu,” kata Anggi sambil meninggalkan kami. Beberapa saat kemudian Anggi kembali sambil celingak- celinguk. Karena rasa curigaku yang besar kepada si anak ini, aku langsung bertanya, “ abis ngapain? Terus ngapain celingak- celinguk gitu?”

Santai. Anggi kembali duduk di hadapan kami, “ jadi gini loh guys, biasanya kartu nama ‘kan, ada nomer teleponnya. Eh, ternyata ada.”

“ terusss??”

“ gue telepooo-“

“-HAH! APA?!”

“ biasa aja dong!” protes Anggi ketika aku teriak di depan wajahnya. Shock! Hyeh! “ iihh si Wawa. Diem heula, geura!” omel Indah dengan Sundanesse-nya.

“ tauk. Gak sopan. Terus gue telepon dah. Gue ngomong gini ‘sorry ini yang nabrak temen saya bukan?” heh! Aku beneran spot jantung. “ elo kalo jadi cowok yang bertanggung jawab dong! Temen gue keseleo tau!” sambungnya. Deg! semakin menganga!

“ trus kata dia apa?” Tanya Dhea sambil cekikikan.

“ iya, kata dia, ‘maaf ukhty. Kemarin saya mau tolong tapi teman ukhty malah menolak’. Gue jawab aja, ‘ halah! Alasan aje lu! Sekarang obatin temen gue!’. Trus dia jawab lagi ‘baik kalau begitu. Sekarang ukhty dimana? Saya akan kesana’. Trus gue kasih tau deh kita lagi dimana. En skarang dia perjalanan menuju kesini,”

Pasrah! Lemas tak berdaya. Swear, I can’t think anything! Kaki yang lumpuh. Mamaaaakkk…

“ hiks, Anggi. Kamu tau gak sih, yang kamu lakukan sekarang? Haa..?” tanyaku yang benar- tak bisa berfikir apapun.

“ ya tau lah, pokoknya dia harus tanggung jawab! Enak aja mau gampang,”

“ cintakuuuu… AKU CERITA SAMA KALIAN PADA BIAR GAK NAMBAH MASALAHNYAAA… tapii…”  lemas. Mau pingsan dah ini mah!

“ eh eh! Liat deh orang itu!” aku, Anggi dan Dhea langsung menengok kearah seseorang yang ditunjuk Indah. “ jangan- jangan dia orang yang nabrak kamu, Wa”. Wajahnya gak kelihatan. Ya Alloh, semakin lemeesss…

“ Gi, jangan bilang lo juga ngasih tau dimana kita duduk?” Tanya Dhea yang kelihatannya juga mulai panic.

“ yoa, biar dia gampang nyari kita-nya. Biar cepet pengobatannya si Wawa. Biar gak kayak ibu hamil lagii…”

BELEDUG! Aku, Indah dan Dhea lemas bersamaan. Ya Rabb kenapa aku punya teman yang dodolnya sampe kelewat lengket begini sihhh? Haaa…

“ oii oii… sekarang dengerin gue, kita kabur diem- diem dan jangan sampe ketauan si penabrak itu,” ucap Dhea berbisik.

“ eh ngapain kabur? Udah tau gue menyayangkan pulsa gue buat ngobatin si Wawa ini. kenapa kita jadi kabuuurrr??”

“ demi apa yah gue punya temen blo’on kaya elu. Udah sekarang dengerin gue duluuu… eeeehhh…” Dhea makin jengkel! “ itungan ke satu, kita jalan pelan- pelan. Dan elo Wa, jangan keliatan orang sakit punggung yah. Ntar malah ketauan. Bahaya. Oke oke!” aku mengangguk. Mengikuti kata apa saja yang dikatakan Dhea. Sepertinya lebih baik ketimbang apa yang dikatakan si Anggi.

Hitungan ke satu kami meninggalkan basecamp 3ADI. Lalu mengumpat di belakang pohon jati yang mulai rapuh. Meneliti orang tadi. Demi Alloh, itu orang yang menabrakku. Ia menghampiri meja kami duduk tadi.  Terlihat dari sini (tempat kami mengumpat), orang itu mengeluarkan handphone dari sakunya. Mungkin mengetik.

HP Anggi berdering. Jangan, sms dari orang itu. Dhea membacanya agak keras,

“ afwan ukhty, sedang dimana? Saya sudah sampai di tempat yang ukhty tunjukkan. Tapi saya tidak melihat akhwat yang memakai kerudung panjang berwarna abu,”

Itu aku. Kerudung abu. ANGGIIIII….!!! Rasanya kepalaku ini sudah kepenuhan asap yang siap- siap meledak menyerang Anggi. Yang dipelototin malah nyengir tabados! Cepat Dhea langsung membalas pesan dari si Ikhwan.

“ afwan akhi, teman saya katanya minta di antar ke dokter. Katanya makasih. Maaf sudah merepotkan,”

“ dhe! Kenapa balesnya gituuu..?” Anggi mencibir. “ udah diem aje! Hape lu, gue yang megang. Gak bakalan bener kalo elu yang control.”. Anggi makin mencibir.

Melihat lagi. Ikhwan itu sepertinya membalas sms kami,

“ wah, kelihatannya parah ya? Ke dokter mana? Biar saya yang tanggung biaya pengobatannya”

Gubrak! Tuhkaaann…

“ enggak usah akhi. Ternyata dia takut disuntik. Gak jadi ke dokter. Ke tukang urut muslimah. Hehe.. afwan”

Dibalas lagi,

“ ya sudah. Dimana tempat urutnya? Saya yang bayar…”

Haaaaaa… mau nangis. Beneran deh!

“ tuh kan. Udah bener tadi gue. Malah di cancel,” Anggi merengut sebal. Tanpa menunggu lama, Aku, Indah dan Dhea langsung memelototi si Tua ini. Anggi menunduk. Apa lagi yang mau dibalas yah?

“ eh, gini aja deh. Indah, elo samperin tuh cowok terus bilang kalo Najwa is fine. Ok! Terus lu bilang aja gak tau dimana si Wa di obatin. Bilang lagi, lu ketinggalan rombongan. And then, gue matiin ni hape. Ntar coba lu telepon ternyata gak aktip. Oke!” perintah Dhea yang sudah kehabisan ide. Indah mengangguk dan langsung chaos menghampiri si Ikhwan.

Deg. Melihat dari jauh. Yes! Indah lancar banget ngibulnya. Hehe… tapiii… di tengah perjalanan ngibulnya, dia menengok ke arah kami!!

Huftt.. si ikhwan tak sadar. Alhamdulillah. Indah balik ke tempat persembunyian, dengan wajah pucat.

“ a… ada apa?” tanyaku juga ikutan pucat. Ada sesuatu yang mengganjal sepertinya. Indah mengangguk pelan.

“ apa?!”

“ tadi aku udah bilang yang apa Dhea katakan, tapii…”

“ apaaa??!!”

“ dia minta nomer Najwa,” DEG!

“ terus kamu kasih?”.

“ iya, makanya tadi aku nengok ke belakang, tapi kalian gak ada yang ngerti bahasa aku,”.

“ kenaaapaaa??!!”.

“ abis gak ada di teks ceritanya Dhea,”

!

Dddrrrtt… handphone ku bergetar. Deg! Ya Alloh. Ragu. Aku mengambil hp oranye ku dari saku. Di sana tertera nomor yang sama yang di hubungi Anggi.

Si Penabrak!

Pingsan.

“ haaa… aku harus gimanaaa??” tanyaku panic. Kulihat 3ADI juga. mereka pun hanya diam tak punya akal.

“ gue punya satu ide terbodoh, matiin hape lu trus keluarin sim cardnya. Abis itu patahin!” itulah yang dicetuskan Dhea.

“ haaa…? Ga mauuu… ini nomer dari Chandra! Ga mauu…!!”

“ trus mau gimana lagii?” Tanya Dhea balik.

“ ya udah sih samperin aja!” Anggi melotot. Tapi kaaaann… mungkin benar apa yang dikatakan Dhea. Satu- satunya cara agar si Penabrak tidak bisa menghubungiku lagi, yaitu mematahkan sim card ini. tapi kan ini kenang- kenangan dari Chandra- temen SMA ku-. Okelah. Ku reject panggilllan dari si Penabrak itu. Mengeluarkan sim card dan TAKK! Sim card dari Chandra sudah patah. Makin lemas saja! Huaaaa…

Selesailah semuanya. Aku dan 3ADI langsung meninggalkan tempat persembunyian dan lari. Sebelumnya Dhea mengirim pesan kepada si penabrak, “terimakasih bentuannya Akhi”. Kemudian ia mematikan handphone Anggi. L

 

Sampai aku di rumah. Masih betah memegangi pinggang ku. Sebenarnya merasa berdosa sekali dengan orang itu. Sangat berdosa. Maafin Najwa, Ya Alloh. L

“ Najwa!”

“ hua! Astaghfirullah, Mas! Jangan ngegetin napa sih. Gak bisa apa pelan- pelan. Udah tau capek pulang kuliah, bukannya disambut baik malah dikagetin!” omelku pada si Mas yang bener- bener ngagetin.

“ yee… map. Habis, dari tadi di telepon gak nyambung- nyambung. Ummi khawatir tauk! Kenapa nomernya gak aktif?” Tanya Mas Tha heran.

“ aku patahin kartunya-“

“-HA?!” aku hanya menunduk ketakutan dan mulai menangis.

“ why?”

“ aku diteror-” whaaaa… Najwa kamu bo’ong! “-sama siapa?”

“ kalo orang neror mana aku tau, Mas. Kalo udah kenal namanya bukan diteror! Tapi ngajak kenalan!”

“ terus kenapa di patahin cardnya?”

“ ya namanya orang panic emang sempet mikir apa? Udah ah, mau mandi. Bawel banget nanya- nanya mulu,” aku cemberut sambil ngeloyor ke kamar. Maafin Najwa, Ya Alloh.

 

serial Najwa – bab1

1

Pagi ini perutku kenyang. Makan roti bakar rasa cokelat hazelnut dan teh hangat buatan Ummi. Oh iya, namaku Najwa El Fatha. Nama panjangnya Najwa Annida El Fatha. Ini novel perdanaku. Setelah berkali- kali nulis novel gak pernah selesai. Heu!

Hufftt… akhirnya kuputuskan ini novel pertamaku. Semuanya sesuai dengan kehidupanku. Dijamin seru!

 

Mas Tha cemberut melihatku untuk yang kesekian kalinya dimanjakan Ummi.“ yeee… udah gede masih aja dimanjain…”

“ hahaa… biariiinn… bilang aja iri mas,” goda ku.

“ lagian kamu aneh aja, Tha. Gak apa- apa ‘kan Wa di manjain. Kamu juga dulu sering,” sambung Ummi sambil mengoleskan selai cokelat hazelnut kesukaanku.

“ haahaaa, emang enak! Wlee…” sekali lagi aku menggodanya. Senang euy!

“ aahh… iya deh, Tha kalah. Umm… Wa, udah belum makannya? Lama amat? Udah agak siang nih. Berangkat yuk!” ajak Mas Tha yang sudah mulai beranjak dan mencium tangan Ummi. Aku gak mau kalah. Kucium juga tangan Ummi yang lembut itu, kemudian kami berdua pamit.

“ assalamu’alaikum !”

 

Haaaa… senaaaaaaaang! Yoa, hari pertama aku masuk kuliah. Selama seminggu menjalani OSPEK, akhirnya udah bisa memasuki dunia baruuu!! Yeahahahaa…

“ Wa, yang bener dong pegangannya! Jatuh nanti!” omel Mas Tha. Ya iyalah, gimana gak mau ngomel, aku goyang- goyang gak sabar di atas motor. Hehe…

“ iya afwaaaann…” ucapku sambil nyengir.

“ nanti kalau sudah sampai di kampus jangan sok kenal yaa! Awas aja ngaku- ngaku adik Mas Tha, entar reputasi Mas jatoh gedubrak!” canda nya.

“ haha… ogah amat. Emang reputasinya apa sih? Paling- paling, kenalannya cuma satpam gedung. Hehe…” balasku.

“ waaahh… enak aja. Gini- gini ketua organisasi niihh… oh iya, nanti kamu ikut organisasi Mas yaa… awas aja ngga ikut! Nih!” ucap mas Tha lagi sambil mengepalkan tangan kirinya.

“ tadii, ga mau ngakuin aku adiknya Mas Tha, sekarang di suruh ikut organisasi, gimana sih?”

“ yaa… nanti kamu munculnya di saat waktu yang tepat,”

“ emang sekarang belum tepat?”

“ ya ngga tepat laaaahh… ‘kan lagi di motor, mau ngenalinnye gimane neng?”

“ hee… oh iya. Cepetan maaass… lama neh!”

“ bawel,”

Zzznggg… motor melaju smakin cepat.

*****

Fiuuhh… akhirnya sampai juga di depan kelas. Waaaahh… Ternyata aku bisa kuliah di tempat macam begini. Hebaaaatt…! Dengan agak malu, aku memasuki kelas dengan jurusan Komunikasi- Jurnal Siar. Haha… Subhanallah ya, seorang Najwa, anak keturunan Jawa- Betawi, yang lahir tanggal 18 November 1994, bisa masuk tempat perkuliahan tertinggi di Indonesia! Weew… mimpi apa sih aku, minggu kemaren? Hehe…

“ najwaaa…!!” aku menoleh ke belakang. Anggi, Dhea, Indah. That’s right! Mereka teman- teman baruku di kelas ini.

“ haii…” aku langsung cipika- cipiki ketika mereka sudah berada di sampingku. “ kok baru datang?”

“ haaa… iya nih, tadi agak macet di Jagorawi. Jadi sedikit telat dehh…” Dhea nyengir. Kami bertiga mengangguk. “ oh iya, hari ini kalian ada jadwal ga, habis kelas terakhir?”

“ ga ada. kenapa?” Tanya Anggi.

“ gue minta anterin nyari Kost-an,”

“ di kost-an aku aja. Masih ada yang kosong tuh,” jawab Indah.

“ ada berapa dah?” Tanya Anggi.

“ masih ada empat sih. Kenapa emang?”

“ gua juga nyari kost- an. Abis gua capek kalo mesti bolak- balik. Belom lagi nyampe rumah dah malem ajeh.”

“ ya udah. Ngomongin kost-an mah entar aja. Sekarang masuk yuk. Dah mau mulai tuh pelajaran pertama. Asik asik…” cuapku sambil nyengir gak sabar.

“ yuuu…”

*****

Jelas saja. Kelas ramai. Masih suasana SMA. Anak- anaknya masih pada ribut. Padahal mah satu kelas pas OSPEK juga. Tapi kaya pada baru kenal. Masih salam- salaman. Sejam dosen belom ada yang masuk. Kayaknya mah masih ada meeting- meeting gituu.. nah kesempatan ini digunakan dengan sangat baik oleh anak- anak jurusan psikologi angkatan baru ini. Ada yang bercengkrama bareng pake bahasa korea, jepang, inggris. Sunda pun ade! Ceuk- ceukan eta, abdi teu ngartos deuh. Hehe… untuk kali ini, aku lebih memfokuskan pada 3 orang kawan baru ini. Dhea, Anggi, dan Indah.

“ eh, eh, kita kan baru kenal ya, seminggu yang lalu. Gimana kalo kita bikin geng?” tanya Dhea yang memulai percakapan.

“ ieh. Geng- geng an. Ntar dikiranya geng nero! Hehe,” cuap Anggi yang lagi serius sama psp nya.

“ yee… kan slama gak nonjok- nonjokin pohon toge mah, kagak ngapeh! Hihi..” celetukku.

“ haha… apaan nyambungnya geng nero ama pohon toge?” Tanya Indah yang diam- diam tapi koplak.

“ gak usah pake geng- gengan deh. Kayak apaan aja,” ucapku.

“ yaaa… kan biar lebih solid aja, Wa,” Dhea mengangkat bau. Eh bahu maksudnya.

“ eumm… kalo gue usulin gimana kalo tim aja? Namanya diambil dari inisial nama ( boros banget). gimana?” tanya Anggi yang langsung mematikan PSPnya.

“ coba bentar, ehmm… N-I-D-A, NIDA? Cakep tuh!” teriak Indah sampe sekelas denger. Hehe…

“ ieh, jangan ah. terlalu girly. Gak suka ah. ehmm… gimana kalo DIAN?”

“ kenapa Dhe?”

“ hee???” nah lo, yang namanya Dian nengok. “ eee… enggak kok An, iseng aja. Mau ngetes kuping lo. Masih normal gak? Hehe,”

“ ah… gue kira apa…”

“ sorry,” Dhea menggaruk kepalanya yang keliatannya sanggat gaattaall…  ieh, jadi pengen ikutan ngegaruk. Hehe…

“ haduuhh… nyari nama aja susah. IDAN?” teriak Anggi.

“ kok lo kenal ama cowok gue, Nggi?” teriak seorang gadis dari ujung kelas dan kelihatannya ia mendekati kami dengan sangar. Ow ow ow…

“ BRAAKKKK…!” dia nge gebrak meja! Ckckckk.. gadis dengan tenaga super!

“ hee?” Anggi melongo dengan tampang tak berdosanya. “ kenape lu? Dateng- dateng gebrak muka eh meja orang?”

“ halaaahh… jangan belaga gak tau lu! Nyebut- nyebut cowok gue!” cuap si gadis.

“ haaa…??! Cowok ape?” si Anggi sebenernya beneran gak tau apa emang gak tau? Hehee.. sama aja yah?

“ itu tadi, nyebut- nyebut IDAN?”

“ ooooo…. IDAN? Lhaaa… gue kenal juga kagak!”

“ terus ngapain lu nyebut nama dia? HAA??”

“ gileeehh… bau, napas lu!” cuap Anggi sambil menutup hidungnya. Astaghfirullah… anggiiiii…. Blo’on amat sih ni orang. “ kalo masalah IDAN, GUE LAGI NYARI NAMA GENG! TAU LU?”

Si gadis langsung diem. Ciut menatap Anggi ( ciyeee…). Dengan sesekali bernapas kaya orang sesak, kemudian gadis itu,

“ haaaaaa……!!!!” teriak dan nangiss! Weeew… lari keluar kelas. Glek! Maksudnya? Ini sebenernya cerita apaan sih? Ngaco amat dah.

“ gak jelas dasar,” Anggi kembali duduk santai. Back to her PSP.

Dengan tampang kebingungan karena gak tau sebenernya ini cerita apa (hoho), seluruh anak kelas ikutan duduk. Et dahh… latah amat yak!

Baliiikk…

“ aduuh, masya Allah. Gara- gara nyari nama geng aja, bahkan sampe ada korban penetesan airmata. Hihi… kenapa gak 3ADI aja sih? Ribet amat?” ujarku sabil membuka tutup botol minum.

“ APPAAAA…????”

Aku menyipitkan mata dan reflek menutup telinga. “ masya Allah. Kalian tuh, cewek apa cowok sih? Suara menggelegar gitu. Ehm ralat, kecuali Indah… hehe”

“ kenapa lu bisa mencetuskan nama itu? Kan gada inisial nama lu, Wa,” cuap Anggi.

“ terus kenapa ada 3 nya? Gak nyambung amat,” tambah Dhea.

“ wowowowooo… yaa… ADI nya itu kalian. Karena kalian bertiga jadinya 3,” jawabku santai.

“ haa…? Elu?” tanya Anggi penasaran dengan nama 3ADI itu.

“ ya, 3nya aku. Aku bagaikan penyatu kalian…”

BLETAKK…

“ awww…” ringis ku.

“ pengen banget dibilang penyatu…” ujar Dhea sambil geleng- geleng kepala.

“ ya ampun, kalian jahat banget sih. Temen paling kecil gini, masih juga disiksa, hihi,” bela Indah yang ternyata meledekku. Huuuu…

“ tapi, lumayan keren tuh nama. 3ADI. Pasti orang bakal bertanya- yanya. Dan kita bakal terkenal satu pakultas. Hhohohoo…”

BLETAKKK…

“ awww…” Anggi meringis. oh, jadi yang ngegetok aku dan Anggi itu si Dhea. Sial!

“ enak aja terkenal sepakultas. Sekampuss… hahaha… cadazzz….” cuap Dhea sambil ber-haha ria. Najong dah.

“ ya udah, sepakat yah, 3ADI?” Tanya Indah.

Aku, Dhea dan Anggi mengangguk. “ SETUJU!”

 

Dan pada akhirnya, gak ada dosen yang masuk. Ya Allah, hari pertama saja sudah dibuat menganggur. Huuu… payah!

Selesai bincang- bincang menunggu dosen yang tak kunjung datang, dari kami banyak yang keluar kelas. karena sehabis ini ndak ada mata kuliah lagi. Aku pun pamit lebih awal pada 3ADI karena sudah ditunggu Mas Tha di depan gerbang fakultas.

“ lama amat sih, dek!” cetus Mas Tha.

yeee… sabar dong, mas” aku manyun. Baru saja mau menaruh kaki di pijakan..

Brrmmm…

“ eeee….” Motornya jalan! “ Mass Thaaa..!! Masya Alloh dah, Wa ditinggalin”. Motor berhenti. Pengendaranya menengok ke belakang. Memutar balik.

“ oohh… belum naik dek?” Tanya Mas Tha layaknya tak punya dosa.

“ ya Allah, masa gak liat Wa mau naik. Nginjak juga belum,” aku makin manyun.

“ haahaa.. maaf neng, habis lama banget. Ya udah cepetan naik,” baru deh aku naik ke motor. Dan pergilah.

 

Sampailah kita di markaz. Kirain mah jauh. Ternyata jalan kaki juga nyampe. Dan disinilah aku diperkenalkan oleh Mas Tha kepada teman- teman organisasinya. Dari yang akhwat sampe yang ikhwan. Tapi tak semuanya diperkenalkan padaku. Karena masih ada yang tak hadir. Sudah, aku hanya diam karena dikacangin. Heu! Sendirian. Layaknya seekor anak ayam kehilangan induknya. Akhirnya kakakku dan kawan- kawan selesai ngobrol. Aku pun kelaparan. Mau makaaaann..

“ di KanCil aja yuk dek. Enak murah juga. Ada bento loh!” semangat Mas Tha promosi.

“ iyaa..? huaa… mauu…” aku juga ikutan seru. Biar senanglah. Hehe…

Kami pun sampai di KanCil. Kantin Cikologi. Maksudnya punya fakultas Psikologi. Kan di sini namanya aneh- aneh. Aku dan Mas Tha mencari tempat duduk yang peewee. Baru saja mau duduk,

“ Wawaaaaa….!!”

Glek..! 3ADI!

“ heyyy…” aku melambaikan tangan pada gank baru itu.

“ mau makan juga Wa?” Tanya indah mempersilakanku ‘tuk duduk. Kayaknya, aku dan Mas Tha deh, yang mau makan duluan?

“ iya laah.. ngapain lagi? Mau cari sendok semen?” 3ADI nyengir. “ gini aja deh, kalian ‘kan maba. Bagaimana kalau kalian traktir Mas?” tanya si Mas SKSD dan 3ADI menganga.

“ astaghfirullah… belum pada kenal ya?” aku menepuk kening. 3ADI mengangguk bingung. “ hehe.. beliau ini kakakku. Perkenalkan teman- teman, beliau ini namanya Mas Tha,” Mas Tha langsung tersenyum sok ‘iye’.

“ oooo… aku Anggi!”

“ aku Dhea!”

“ saya Indah,”

“ saya abangnya Wa,”

?

Semuanya diam. Lalu tertawa. Walau perkenalan singkat yang rada aneh ini berlalu, tapi Mas Tha dan 3ADI langsung akrab saja. Seperti kenal beberapa tahun yang lalu.

Selesai makan, jarum pendek di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 12:32. Waahh… kita belum shalat. Shalat dulu ya. Setelah pamitan pada 3ADI, aku dan Mas Tha menuju masjid dan sekalian pulang ke rumah.🙂

“bener yaahh… ” tanya nya meyakinkanku. ” hem eh…” aku mengangguk.

itulah percakapan singkat kami. tentang ibu Munajah. memang sudah lama sekali, bahkan belum sama sekali aku menjenguk beliau. padahal Munajah sudah sering memintaku untuk menjenguk ibunya, bahkan dengan ketua OSIS di sekolahku. baru hari itu aku sudah berniat dengan ketu OSIS untuk menjenguk Ibunya Munajah dengan diam diam.

 

#to be continued